Be Careful What You Wish For..

Beberapa waktu lalu, setelah sukses mendownload applikasi untuk membaca ebook di smartphone. Saya secara brutal mendownload berbagai macam buku. Kemudian saya memutuskan, buku yang akan saya baca adalah buku tentang dongeng-dongeng Jepang yang ditulis oleh Yei Theodora Ozaki (setelah sebelumnya mencoba membaca The Art of War dan ternyata kurang sukses). 

Buku dongeng ini, seperti juga kebanyakan dongeng di setiap negara, berkisah tentang bagaimana orang akan mendapatkan balasan yang sesuai apa yang mereka kerjakan, kebaikan akan mengalahkan kejahatan, dan bla bla bla..

Salah satu dongeng yang cukup menarik perhatian saya adalah sebuah cerita dengan judul “The Story of the Man Who Did Not Wish to Die”.

Ceritanya adalah tentang seorang pria bernama Sentaro yang sangat senang hidup (meskipun dia menjalaninya dengan bersantai dan bermalas-malasan) dan takut mati. Pikiran bahwa suatu saat Ia akan mati membuatnya takut, dan dia mulai berpikir bagaimana untuk mendapatkan ramuan bernama “Elixir of Life” agar dia bisa hidup lama. Singkat cerita, Jofuku, Dewa pelindung para pertapa, mengabulkan keinginannya untuk bisa hidup selamanya, yaitu dengan mengirim Sentaro ke sebuah negeri bernama negeri “Kehidupan Abadi” dimana penduduknya tidak bisa sakit atau mati.

Setelah sampai di negeri ini, Sentaro berpikir ‘Betapa enaknya bisa hidup selamanya tanpa perlu sakit, atau mati’. Mulailah dia menjalani hidup di sana. 

Jika Sentaro ingin hidup selamanya, penduduk negeri Kehidupan Abadi justru ingin merasakan sakit dan mati. Hal ini membuat Sentaro bingung, pada awalnya.

Belakangan Sentaro paham mengapa penduduk di negeri itu justru ingin cepat mati. Hidup dengan umur panjang ternyata tidak seenak apa yang dia bayangkan. Dia berpikir ‘Kalau hidupku isinya hanyalah ketidakberuntungan, apa enaknya bisa hidup lama untuk menjalani semua penderitaan ini’

Dia kemudian ingin bertemu kembali dengan Jofuku untuk minta dikembalikan ke negeri asalnya. Menjadi orang biasa lagi, yang bisa sakit dan mati.

Berangkatlah dia mengendarai burung bangau kertas yang ajaib, terbang melewati lautan untuk bertemu Jofuku. 

Tiba-tiba di tengah jalan, Sentaro kembali terpikir betapa enaknya bisa hidup selamanya dan kemudian menyesal telah meninggalkan negeri Kehidupan Abadi. Ia, dengan sia-sia, mencoba mengentikan laju burung bangau.

“Such was the willfulness of the man’s nature that he looked back and regretted all he had left behind”

Saat burung bangau sedang terhenti, ternyata badai datang dan menghancurkan si burung bangau, membuat Sentaro terjatuh ke lautan. Ia pun berteriak minta tolong kepada Jofuku.

….

Ternyata semua yang dialami Sentaro di negeri Kehidupan Abadi hanyalah sebuah mimpi yang diperlihatkan Jofuku kepada Sentaro. Untuk menunjukkan kepada Sentaro bahwa keinginannya yang egois untuk dapat hidup selamanya ternyata tidak berakhir seenak apa yang dia angankan. Bahwa ternyata, ketika bosan hidup di negeri Kehidupan Abadi dan mengharap untuk mati, harapan itupun hanya sekedar keinginan egois.

“Your desire for death was not real, for even at the moment you cried out loudly and shouted for help. It is also vain for you to wish to become a hermit, or to find the Elixir of Life. these things are not for such as you—your life is not austere enough”

Akhirnya Sentaro kembali menjalani kehidupan manusianya yang biasa. Namun kali ini dia menjalaninya dengan bekerja dan berusaha, serta berdoa sebaik mungkin.

Moral of the story: Be careful what you wish for..

Kadang, ada orang yang merasa ‘duh, hidup gw berat banget sih..untuk apa gw hidup kalau cuma menderita. mendingan mati aja deh’ Weits, sembarangan ngomong aja! Iya kalau masuk surga, orang mati bunuh diri kan masuk neraka :p

Di sisi lain, ada yang merasa ‘Wah, saya takut mati. Soalnya saya banyak dosa.” Terus, mau hidup lebih lama untuk apa? Biar bisa bikin lebih banyak dosa? :p

Jangan banyak ngeluh lah, bersyukur aja sama hidup yang dikasih Tuhan. Dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya kok. Yakin aja.

Jangan pernah meminta kepada Tuhan, atau kepada manusia, sesuatu yang sebenarnya gak kita ketahui dengan pasti manfaatnya untuk kita. Kadang, keinginan egois muncul karena kita dibutakan oleh kesenangan sesaat, dan semu, yang ditawarkan oleh keinginan tersebut. Kalaupun mau minta, mintalah untuk dikasih yang terbaik sama yang Di Atas :)

nb: Oiya, ada satu lagi moral of the story yang ketinggalan: gak usah sering-sering liat ke belakang. Menyesali sesuatu itu gak ada gunanya. Toh waktu gak pernah bisa dibeli kembali kan? Kalau kelamaan liat kebelakang, waktu yang tadinya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih baik malah jadi kebuang percuma.